Meskipun manusia astronot baru-baru ini kembali ke Bumi, sekelompok pelancong baru sudah menuju kembali ke orbit. Pada tanggal 11 April, misi Commercial Resupply Services 24 (CRS-24) NASA diluncurkan dari Cape Canaveral, Florida, membawa lebih dari sekedar pasokan. Di antara muatan seberat 11.000 pon di pesawat ruang angkasa Northrop Grumman Cygnus XL terdapat muatan biologis khusus: populasi nematoda kecil yang dikenal sebagai Caenorhabditis elegans.

Mengapa “Cacing Luar Angkasa” Penting bagi Kesehatan Manusia

Pada pandangan pertama, tong berisi cacing sepanjang 1 milimeter sepertinya tidak mungkin bisa menggantikan manusia. Namun, organisme ini adalah alat penting untuk penelitian biologi. Meskipun ukurannya, C. elegans berbagi banyak proses biologis mendasar dengan manusia, menjadikannya model ideal untuk mempelajari bagaimana organisme hidup merespons lingkungan ekstrem.

Tujuan utama dari misi ini adalah untuk mengatasi rintangan fisiologis penerbangan luar angkasa jangka panjang. Saat program Artemis NASA bersiap untuk hadir secara permanen di Bulan dan pada akhirnya mengirim manusia ke Mars, para ilmuwan menghadapi pertanyaan kritis: Bagaimana kita dapat menjaga tubuh manusia tetap sehat selama bertahun-tahun terpapar gayaberat mikro dan radiasi?

Data terkini menyoroti betapa parahnya tantangan-tantangan ini:
Degradasi Fisik: Berada dalam gayaberat mikro dalam waktu lama menyebabkan hilangnya kepadatan tulang dan atrofi otot secara signifikan.
Masalah Sensorik: Astronot sering kali mengalami perubahan penglihatan dan pergeseran neurologis.
Risiko Radiasi: Ruang angkasa tidak memiliki lapisan pelindung atmosfer bumi, sehingga membuat para pelancong terpapar pada tingkat radiasi kosmik yang jauh lebih tinggi.

Sebagaimana dicatat oleh Frank Rubio, yang mencatat rekor masa tinggal satu orang terlama di luar angkasa (371 hari) pada tahun 2023, bahkan satu tahun di orbit memerlukan rekondisi fisik yang ekstensif saat kembali. Untuk beralih dari masa tinggal jangka pendek, kita harus memahami dampak biologis ini pada tingkat sel.

Eksperimen: Dari Lab hingga Eksterior ISS

Penelitian yang dipimpin oleh para ilmuwan di Universitas Exeter ini melibatkan proses multi-tahap yang canggih setelah muatan mencapai Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS):

  1. Kedatangan dan Penyiapan: Anggota kru akan memindahkan “Petri Pod”—unit rumah multiruang—ke dalam laboratorium di dalam kapal.
  2. Eksposur Eksternal: Dengan menggunakan lengan robot stasiun, astronot akan memasang habitat nematoda di luar ISS.
  3. Lingkungan Terkendali: Hingga 15 minggu, cacing akan hidup dalam wadah khusus yang mengatur suhu, tekanan, dan oksigen, sambil tetap memaparkan mereka pada kenyataan pahit gravitasi nol dan radiasi ruang angkasa.
  4. Pengamatan: Para peneliti di Bumi akan memantau cacing menggunakan fotografi selang waktu, optik fluoresen, dan video resolusi tinggi untuk melacak respons kesehatan dan biologis mereka secara real-time.

Melihat ke Depan

Dengan mempelajari bagaimana nematoda ini bereaksi terhadap dosis radiasi dan gayaberat mikro, tim Universitas Exeter bertujuan untuk mengumpulkan data yang akan menginformasikan protokol medis masa depan bagi para astronot. Temuan ini diharapkan dapat membantu merancang tindakan pencegahan yang lebih baik—seperti intervensi nutrisi atau perawatan medis—untuk melindungi penjelajah manusia.

“Ini mungkin terdengar mengejutkan, namun cacing kecil ini dapat memainkan peran besar dalam masa depan penerbangan luar angkasa manusia,” ujar Menteri Luar Angkasa Inggris Liz Lloyd.

Kesimpulan
Dengan menggunakan organisme mikroskopis untuk memodelkan reaksi biologis yang kompleks, para ilmuwan membangun pengetahuan dasar yang diperlukan untuk melindungi generasi penjelajah berikutnya seiring penjelajahan umat manusia lebih jauh ke tata surya.