Seratus tahun yang lalu, sebuah roket kecil setinggi 11 kaki yang dijuluki “Nell” diluncurkan dari kebun kubis di Massachusetts, menandai dimulainya ilmu roket modern. Saat ini, peluncuran adalah hal biasa, stasiun luar angkasa terus mengorbit Bumi, dan wahana penjelajah menjelajahi Mars. Transformasi ini, yang didorong oleh penerbangan roket berbahan bakar cair yang dilakukan Robert Goddard pada tahun 1926, telah mendefinisikan ulang eksplorasi ruang angkasa – dan para ahli NASA yakin kemajuan yang paling signifikan masih akan terjadi.
Pergeseran dari Serbuk ke Presisi
Sebelum eksperimen Goddard, roket mengandalkan bahan bakar padat seperti bubuk mesiu, yang berasal dari “panah api” Tiongkok pada abad ke-13. Bahan bakar cair memberikan daya dorong dan kontrol yang lebih besar, yang penting untuk penerbangan luar angkasa yang ambisius. Meskipun ilmuwan Rusia dan Jerman juga menyadari potensi ini, Goddard adalah orang pertama yang mendemonstrasikannya, dan menetapkan pendekatan sistematis terhadap teknik roket yang masih digunakan hingga saat ini. Metodologinya meletakkan dasar bagi sistem propulsi kimia, nuklir-termal, dan listrik – semuanya berakar pada konversi energi menjadi daya dorong.
Batasan Roket Kimia dan Selebihnya
Roket kimia tetap menjadi alat utama untuk mencapai orbit, disempurnakan selama beberapa dekade dengan inovasi seperti booster yang dapat digunakan kembali dari perusahaan seperti SpaceX dan Blue Origin. Meski tampak matang, batasannya masih tetap ada: pengelolaan cairan kriogenik untuk misi jangka panjang, penggerak mini untuk CubeSat, dan bahkan mengadaptasi roket untuk digunakan di planet lain. Tidak ada satu pun desain roket yang sempurna; misi yang berbeda memerlukan solusi khusus.
Propulsi Listrik dan Masa Depan Perjalanan Luar Angkasa
Evolusi sebenarnya terletak pada propulsi di luar angkasa, yang tantangannya beralih dari mengangkat massa ke memaksimalkan efisiensi dalam jangka waktu lama. Sistem saat ini mengandalkan pendorong efisiensi tinggi yang ditenagai oleh panel surya. Elemen Tenaga dan Propulsi NASA, dengan sistem berkekuatan 60 kilowatt, dapat mendorong pesawat ruang angkasa seberat 18.000 kilogram ke Bulan hanya dengan menggunakan 3.000 kg propelan, sangat kontras dengan kendaraan peluncur yang 90% massanya terdiri dari propelan.
Perbatasan Berikutnya: Tenaga Nuklir di Luar Angkasa
Lompatan terbesarnya adalah mengintegrasikan tenaga nuklir, membuka energi yang lebih besar untuk menghasilkan tenaga listrik yang lebih kuat. NASA secara aktif mengembangkan teknologi ini untuk misi ambisius seperti eksplorasi manusia di Mars. Roket bukan sekedar kendaraan, namun merupakan alat yang memungkinkan penemuan ilmiah lebih dalam dan pembentukan keberadaan manusia yang bertahan lama di luar Bumi.
Masa depan peroketan bukan hanya tentang menjangkau lebih jauh; ini tentang perubahan mendasar dalam cara kita beroperasi di luar angkasa, beralih dari eksplorasi ke pemanfaatan berkelanjutan.
Seiring dengan semakin beragamnya pilihan peluncuran, sistem berbasis ruang angkasa akan semakin berdampak pada kehidupan sehari-hari, berdasarkan kemajuan selama satu abad yang dimulai dengan penerbangan sederhana di kebun kubis di Massachusetts.






















