Para peneliti telah membuat robot kelelawar untuk mengungkap rahasia bagaimana kelelawar sebenarnya berburu dalam kegelapan total menggunakan ekolokasi. Penelitian yang baru-baru ini diterbitkan dalam Journal of Experimental Biology ini menegaskan hipotesis lama tentang bagaimana kelelawar secara efisien mengidentifikasi mangsa yang tersembunyi di dedaunan, bahkan di lingkungan hutan lebat. Terobosan ini memberikan wawasan berharga mengenai sistem sensorik yang sangat berbeda dari penglihatan manusia.
Meniru Ketepatan Alam
Kelelawar menggunakan ekolokasi dengan mengeluarkan bunyi klik berfrekuensi tinggi dan menafsirkan gema yang kembali untuk membangun “gambar” berbasis suara di sekelilingnya. Hal ini serupa dengan cara kendaraan otonom menggunakan LiDAR, namun kelelawar melakukannya dengan kesederhanaan yang menakjubkan: hanya dengan dua telinga dan satu mulut. Para ilmuwan telah lama mengetahui hal ini, namun mekanisme pastinya masih belum jelas, terutama bagaimana kelelawar menghindari gema di habitat yang berantakan.
Untuk memahami hal tersebut, tim yang dipimpin oleh ilmuwan kelelawar Inga Geipel menciptakan robot kelelawar. Robot tersebut meniru jalur terbang kelelawar sungguhan, memancarkan gelombang sonar untuk menguji cara mereka menentukan apakah ada mangsa di dedaunan. Eksperimen tersebut mengungkapkan bahwa kelelawar tidak perlu menghitung sudut pasti setiap daun; mereka hanya menyaring gema yang kuat dan konsisten. Jika daun memegang mangsa, sinyal kembalinya lebih kuat, menandakan kemungkinan adanya makanan.
Desain dan Hasil Robot
Robot kelelawar terdiri dari pemancar sonar dan mikrofon binaural yang dipasang pada jalur linier, yang mensimulasikan penerbangan. Robot tersebut menguji daun yang dicetak 3D dengan dan tanpa mangsa buatan (capung). Hasilnya sangat mencengangkan: robot mendeteksi mangsa sebanyak 98%, sementara secara salah mengidentifikasi mangsa di dedaunan kosong hanya 18%. Hal ini menegaskan bahwa kelelawar mengandalkan kekuatan gema daripada perhitungan sudut yang tepat.
“Eksperimen perilaku telah menunjukkan bagaimana kelelawar ini dapat memecahkan masalah dalam menemukan daun yang dihuni mangsa, namun kami ingin mengetahui apakah penjelasan tersebut benar-benar cukup untuk membuat perilaku tersebut berhasil,” jelas Dieter Vanderelst, salah satu penulis studi tersebut.
Melampaui Studi Ini: Memperluas Teknologi yang Terinspirasi Kelelawar
Penelitian ini didasarkan pada upaya sebelumnya untuk meniru perilaku kelelawar dalam robotika. Pada tahun 2017, para insinyur menciptakan Robat, robot beroda yang bernavigasi hanya menggunakan ekolokasi, dan pada tahun 2015, para ilmuwan mengembangkan Bat Bot dengan sayap yang bisa mengepak dan berubah bentuk. Namun, tim Geipel berfokus pada fungsionalitas daripada estetika, dan memprioritaskan keakuratan data.
Ke depan, para peneliti berencana menerapkan metode ini pada spesies kelelawar lain dan mengeksplorasi bagaimana mereka membedakan jenis mangsa. Studi ini menyoroti bahwa meskipun kita baru memahami permukaan kelelawar, wawasan yang diperoleh dari model robot terbukti sangat berharga.
Studi ini menunjukkan bahwa bahkan dalam lingkungan yang kompleks, strategi biologis yang sederhana namun efektif dapat berhasil. Robot kelelawar tidak hanya menegaskan hipotesis ilmiah tetapi juga membuka jalan baru bagi biomimikri dalam robotika dan teknologi sensorik.























