Dinosaurus adalah predator puncak pada masanya, dengan spesies seperti Tyrannosaurus rex memiliki berat hingga 15.500 pon dan Giganotosaurus mencapai ukuran bus kota. Gagasan bahwa dinosaurus raksasa ini memiliki racun menambah lapisan teror lainnya, namun bukti paleontologis menunjukkan bahwa dinosaurus berbisa mungkin lebih merupakan fantasi Hollywood daripada kenyataan prasejarah.

Pertanyaan tentang dinosaurus berbisa menjadi terkenal setelah dirilisnya Jurassic Park pada tahun 1993, di mana Dilophosaurus digambarkan sebagai predator yang menyemburkan racun. Meskipun embel-embel di sekitar lehernya murni merupakan izin artistik, ahli paleontologi awal berspekulasi bahwa Dilophosaurus mungkin memiliki semacam gigitan beracun. Analisis modern telah membantah teori ini: rahang dinosaurus lebih kuat dari yang diyakini sebelumnya, dan kelenjar racun yang diduga hanyalah bagian dari tulang rahang.

Namun, racun itu sendiri bukanlah hal baru dalam catatan fosil. Vertebrata berbisa paling awal yang terkonfirmasi adalah Euchambersia, makhluk mirip kadal yang berumur sekitar 250 juta tahun lalu, mendahului dinosaurus lebih dari 10 juta tahun. Hal ini menunjukkan bahwa jalur evolusi menuju racun sudah ada jauh sebelum dinosaurus muncul.

Tantangan dalam memastikan racun pada dinosaurus yang punah terletak pada proses fosilisasi. Kelenjar racun adalah jaringan lunak yang jarang bertahan jutaan tahun. Para ilmuwan harus mengandalkan petunjuk tidak langsung, seperti lekukan pada gigi yang mungkin memandu pengiriman racun. Namun, indikator-indikator ini pun tidak dapat diandalkan; beberapa reptil berbisa modern, seperti komodo, tidak memiliki alur yang terlihat.

Salah satu kandidat potensial dinosaurus berbisa adalah Sinornithosaurus, spesies kecil berbulu dari Tiongkok. Para peneliti mengidentifikasi alur pada giginya yang menyerupai saluran racun. Namun, penelitian selanjutnya meragukan teori ini dan menyatakan bahwa alur tersebut mungkin memiliki fungsi lain.

Meskipun tidak ada bukti pasti yang mendukung dinosaurus berbisa, beberapa reptilia yang hidup berdampingan dengan mereka ternyata berbisa. Uatchitodon, archosauromorph Trias (kelompok yang mencakup dinosaurus, buaya, dan pterosaurus), memiliki sistem penyampaian racun yang jelas di giginya. Namun, hanya giginya yang telah ditemukan, sehingga klasifikasi pastinya tidak dapat dipastikan.

Perbedaan antara berbisa dan beracun juga penting: racun disuntikkan (seperti gigitan ular), sedangkan racun bersifat racun jika bersentuhan atau tertelan (seperti katak panah beracun). Ada kemungkinan bahwa beberapa dinosaurus mungkin lebih beracun daripada berbisa. Burung modern, keturunan dinosaurus, seperti pitohui di New Guinea, menyimpan racun di kulit dan bulunya, yang diperoleh dari serangga yang mereka makan. Jika dinosaurus memiliki pola makan yang sama, secara teoritis ia bisa saja beracun, namun mendeteksi ciri-ciri seperti itu pada fosil adalah hal yang mustahil.

Catatan fosil masih belum lengkap, dan tidak adanya bukti bukanlah bukti ketidakhadiran. Racun mungkin telah berevolusi dan menghilang dalam garis keturunan dinosaurus, sehingga tidak meninggalkan jejak untuk ditemukan oleh ahli paleontologi. Namun, hingga saat ini, gagasan tentang dinosaurus berbisa sebagian besar masih bersifat spekulatif.