Sonam Wangchuk selalu menjadi orang yang bertindak. Berlatar belakang sebagai insinyur, ia beralih ke aktivisme ketika ia melihat kelemahan dalam cara pendidikan diajarkan di Ladakh, wilayah gurun dataran tinggi di Himalaya, India. Dia tidak hanya menginginkan buku teks yang lebih baik. Dia menginginkan perubahan sistemik. Selama bertahun-tahun, ia menjadi tokoh publik yang menuntut perlindungan konstitusi dan otonomi di Ladakh. Dia menggunakan aksi mogok makan bukan sebagai gimmick, namun sebagai alat untuk memaksa pemerintah India berdialog.

Namun pada tahun 2026, fokusnya beralih dari otonomi daerah ke krisis nasional.

Dia memberikan dukungannya pada protes yang dipimpin pemuda di New Delhi. Kelompok itu diberi nama Partai Kecoa Janta. Namanya terdengar menyindir. Penyebabnya serius: reformasi proses ujian nasional untuk penerimaan perguruan tinggi. Siswa tenggelam dalam salah urus. Wangchuk turun tangan untuk mendukung mereka.

Dia memulai puasa.

Itu berlangsung berminggu-minggu.

Dia duduk di lokasi protes, membuat pernyataan tentang kegagalan sistem ujian. Kemudian, polisi turun tangan. Mereka tidak menangkapnya. Mereka membawanya pergi. Tiba-tiba. Satu menit dia berada di sana, menit berikutnya dia pergi, dilarikan ke rumah sakit.

Mengapa intervensi tiba-tiba? Pemerintah berada di bawah tekanan. Puasa telah mendapatkan daya tarik. Ini bukan lagi sekedar isu lokal. Itu terjadi secara nasional.

Pada hari ke 26, situasi berubah.

Perdana Menteri menyampaikan pidato publik. Dia tidak meminta maaf. Dia tidak menjanjikan reformasi segera. Namun dia menjanjikan tindakan. Dia menyatakan bahwa kabinetnya akan mengambil “tindakan tegas” terhadap masalah kesalahan pengelolaan pemeriksaan melalui proses parlemen.

Wangchuk mengakhiri puasanya.

Apakah itu cukup? Mungkin. Puasanya berbuka. Pesan telah terkirim. Pemerintah mengakui permasalahan tersebut. Tapi ujian tetap terjadi. Sistemnya masih cacat. Siswa masih menghadapi tekanan yang sama.

Aksi mogok makan yang dilakukan Wangchuk berhasil. Itu memaksa percakapan. Hal ini membawa isu nasional menjadi sorotan. Hal ini menunjukkan bahwa satu orang, yang rela menderita, dapat mengalihkan perhatian pemerintah.

Namun pekerjaan sebenarnya baru saja dimulai. Proses parlementer dimulai sekarang. Tindakan tegas dijanjikan. Pertanyaannya adalah seperti apa praktiknya.

Siswa sedang menunggu. Sistem sedang menunggu. Jawabannya belum ada di sini.